Kau Bukan Netflix Yang Dulu Lagi…
Beberapa waktu terakhir, industri hiburan diguncang kabar besar: Netflix resmi menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi Warner Bros setelah unit Discovery Global dipisahkan. Langkah senilai lebih dari 70 miliar dolar ini bukan lagi sekadar spekulasi analis, tapi pernyataan resmi dari Netflix sendiri. Dan ketika sebuah perusahaan yang dulu diposisikan sebagai disruptor kini memilih membeli studio film tertua di Amerika, ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya di strategi korporasinya, tapi juga dalam identitasnya.
Netflix, yang dulu dikenal sebagai anak nakal Silicon Valley yang datang untuk menghancurkan televisi kabel, kini tampak semakin mirip dengan institusi yang dulu ia lawan. Dari perusahaan streaming yang mendorong kreativitas liar dan originalitas, Netflix perlahan bergeser menjadi raksasa hiburan yang harus mengamankan katalog, waralaba, dan mesin produksi masif untuk mempertahankan pertumbuhan. Ketika mereka memutuskan untuk memiliki Warner Bros, rumah bagi Batman, Harry Potter, Looney Tunes, hingga HBO, itu tak lagi terlihat seperti langkah disruptif. Itu langkah korporasi besar yang ingin bertahan hidup di ekosistem yang semakin brutal.
Perubahan ini sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Netflix pernah menjadi simbol "coolness" dalam hiburan digital; tempat di mana film-film indie, eksperimen storytelling, dan cerita yang tak mendapat ruang di studio tradisional bisa menemukan tempat. Ia dianggap sebagai rumah bagi inovasi. Namun seiring pertumbuhan dan tekanan investor, kreativitas semakin terdikte oleh algoritma. Cerita yang diangkat makin terukur, ritmenya semakin diformulasikan, dan keberanian bereksperimen digantikan kebutuhan mempertahankan retention rate. Netflix tidak lagi mencari cerita terbaik. Netflix mencari cerita yang paling efektif.
Sementara itu, pasar global memaksa wajah Netflix berubah menjadi entitas yang lebih membumi, lebih mass-market, dan lebih dekat dengan televisi yang dulu mereka anggap kuno. Lihat saja di Indonesia. Ingat masa ketika menonton Netflix terasa seperti pilihan anak kreatif atau sinefil yang sudah insaf mengunduh film dari torrent? Hari ini, layar beranda Netflix justru dipenuhi judul-judul yang nuansanya mendekati sinetron prime time: "Ipar Adalah Maut" yang jadi trending dan segera disusul "Pernikahan Dini Gen Z". Dan setiap bulan Netflix semakin agresif masuk ke segmen drama harian yang emosinya meledak, ceritanya langsung tancap gas, dan tokohnya dibuat se-relatable mungkin untuk jutaan penonton baru.
Yang berubah bukan hanya kontennya, tetapi aura Netflix itu sendiri. Mereka bukan lagi brand yang mendefinisikan selera; mereka menjadi brand yang mengikuti selera mayoritas. Jika dulu orang membicarakan “prestige TV”, referensinya hampir pasti HBO, FX, atau belakangan Apple TV+. Netflix kini berada di posisi berbeda: bukan benchmark kualitas, tetapi benchmark jangkauan. Mereka menjadi semacam McDonald’s dari dunia streaming: selalu ada, mudah diakses, dan diterima semua orang. Bukan hinaan, tapi pengakuan bahwa skalanya membuat pilihan kreatif mereka tak bisa lagi idealis.
Yang membuat transformasi ini menarik adalah bagaimana ia mencerminkan dinamika tak terelakkan dalam industri kreatif. Ketika sebuah brand tumbuh terlalu besar, identitas awalnya perlahan terkikis oleh tuntutan pasar dan kebutuhan bertahan. Netflix dulu adalah manifestasi dari semangat indie yang berani melawan Hollywood. Hari ini, mereka justru menjadi Hollywood itu sendiri. Dan keputusan untuk membeli Warner Bros terasa seperti momen simbolis ketika sang pembunuh TV kabel akhirnya mewarisi kerajaan yang ia runtuhkan.
Pada akhirnya, ini adalah cerita tentang evolusi. Tentang bagaimana kreativitas dan korporasi sering kali harus bertarung dalam tubuh brand yang sama. Netflix tidak berubah karena ingin berubah; Netflix berubah karena tidak punya pilihan lain dalam perang streaming yang makin padat, makin mahal, dan makin politis. Dalam pertarungan semacam ini, “cool” bukan lagi prioritas utama. Kelangsungan hidup adalah segalanya.
Dan mungkin itu sebabnya kita merasa Netflix hari ini “bukan yang dulu lagi”. Karena memang tidak. Netflix sudah menjadi sesuatu yang berbeda. Lebih besar, lebih rumit, lebih industrial. Pertanyaannya tinggal satu: apakah penonton siap menerima wajah baru ini, atau justru diam-diam merindukan Netflix yang dulu?