Geometry Selects: Film-Film Dokumenter Penting dari JAFF’20!
Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun ini hadirkan 227 film dari 43 negara berbeda. Tentu setiap tahunya penonton menunggu penayangan perdana blockbuster Indonesia selanjutnya atau screening istimewa film-film ikonik dari seluruh Asia.
Dengan kehadiran beragam feature film yang seringkali menjadi fokus utama, film-film dokumenter yang ditayangkan di JAFF biasanya jauh dari spotlight. Padahal film-film ini tidak kalah kreatif, dan terkadang malah menjadi medium yang lebih efektif dalam membawakan perspektif berbeda ke layar lebar untuk kita.
Berikut lima film dokumenter penting yang ditayangkan di JAFF’20 tahun ini!
Gestures of Care (Aryo Danusiri)
Baru-baru ini saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera dilanda banjir-longsor yang kini telah merenggut ribuan nyawa. Peran kerusakan alam dalam tragedi ini pun disoroti. Gestures of Care meningkatkan kesadaran terhadap bencana lain yang juga disebabkan oleh proses pembalakan hutan, yakni kebakaran besar yang banyak terjadi di Kalimantan.
Sutradara Aryo Danusiri menekankan peran penting masyarakat adat, seperti suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, sebagai garda terdepan tidak hanya dalam memadam, tapi juga untuk memitigasi. Mirisnya, masyarakat dan praktik-praktik adat kerap kali mendapat tuduhan menyebabkan kebakaran hutan, padahal di saat yang sama tanah-tanah adat dirampas dari mereka, bukan hanya oleh kebakaran tapi juga pemerintah dan perusahaan.
Keep Rolling (Man Lim Chung)
Keep Rolling merupakan dokumenter reflektif seputar Ann Hui, figur terkemuka di sinema Asia dan salah satu pelopor Hong Kong New Wave. Disutradarai Man Lim Chung, production designer yang telah berkolaborasi dengannya untuk lebih dari dua dekade, dokumenter ini memberi kita intipan personal ke kehidupan serta filosofi filmmaking Ann.
Lahir di Tiongkok, dibesarkan di Makau, dan dididik di Hong Kong hingga London, perjalanan Ann menangkap lanskap sosio-politik “East-meets-West” Hong Kong yang dinamis. Ia mengabdikan karir 40 tahunnya untuk menceritakan kehidupan Hongkonger biasa dan menyuarakan keluhan mereka yang termarjinalkan. Keep Rolling mengingatkan kita kepada peran pentingnya pembuat film yang tuannya memang rakyat
Swaradwipa: Di Antara Bunyi dan Sunyi di Jagat Sumba (Titi Radjo Padmaja)
Debut dari musisi Titi Radjo Padmaja ini berfokus pada alat musik tradisional dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, yaitu Jungga. Swaradwipa menangkap perannya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Sumba Timur dan Waingapu, dari sudut pandang segelintir pemain Jungga yang tersisa: Ata Ratu, Rambu Ester, Pura Tanya, dan Haing.
Mendalami kisah instrumen yang hampir terlupakan ini, Swaradwipa menjadi eksplorasi keragaman yang ditemukan di budaya Sumba, bukan hanya di hubungan antara manusia tapi juga benturan antara nilai-nilai lama dan baru. Dokumenter ini mengingatkan kita bahwa melangkah ke modernitas masa depan tidak harus berarti menantang tradisi masa lalu; apalagi di Indonesia yang kaya warisan budaya, pelestarian harus dipentingkan.
Love, Chaos, Kin (Chithra Jeyaram)
Love, Chaos, Kin bukan sekedar film drama keluarga biasa, menyoroti pasangan imigran asal India yang kini tinggal di Amerika Serikat, Lakshmi dan Narayanan. Mereka mengadopsi anak lintas budaya, putri-putri kembar dengan ibu berkulit putih dan ayah Native American.
Sutradara Chithra Jeyaram mengikuti perjalanan keluarga ini selama enam tahun, disaat Lakshmi dan Narayanan mencoba membesarkan putri-putri ini sambil mendekatkan dengan orang tua kandung serta budaya asli mereka. Love, Chaos, Kin tidak hanya menangkap pergulatan antara identitas, ras, hingga kelas yang dihadapi mereka, tapi juga dinamika keluarga yang walau tidak terikat darahpun, yang tetap bisa tangguh di tengah kerentanan.
Four Trails (Robin Lee)
Memang bisa sebuah film olahraga merayakan keragaman dan lanskap sebuah negara? Four Trails, merupakan surat cinta sutradara Robin Lee untuk tempat kelahirannya. Dokumenter ini mengikuti pelari Hong Kong Four Trails Ultra Challenge, yang berlomba menempuh 298 kilometer dan mendaki 14,500 meter ketinggian dalam 72 jam, tanpa tidur. Hanya 6% peserta dapat menaklukkannya.
Menempuh empat jalur pendakian yang iconic di Hong Kong, ultramarathon ini tidak hanya melewati perkotaan padat yang menjadi khas dari negara tersebut, tapi juga sisi lainnya, keindahan alam yang dapat ditemukan disana. Mengikuti pelari-pelari yang sedang diuji batasan tubuh dan tekadnya, Four Trails mengeksplorasi kondisi fisik dan mental manusia saat menghadapi tantangan terberat mereka.