Bisnis Sendiri atau Dengan Mitra?

Menentukan berbisnis sendiri atau bermitra merupakan sebuah pilihan yang bergantung pada situasi masing-masing pebisnis. Kedua pilihan tersebut bisa sama-sama berisiko jika pebisnis tidak mempertimbangkan matang-matang berbagai aspek di dalamnya. Pada dasarnya, berbisnis sendiri berarti memiliki kebebasan dalam segala keputusan yang diambil. Keuntungan yang akan didapatkan juga cenderung lebih besar karena tidak perlu dibagi dengan mitra. Akan tetapi, risiko yang dihadapi juga dapat sama besarnya ketimbang jika memiliki mitra yang dapat berbagi risiko. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum menentukan mitra bisnis?


Ria Sarwono, Brand & Marketing Director Cottonink

Geometry-(IGF)WWLD4-02.jpg

Ria Sarwono menyebutkan bahwa ia percaya dengan pernyataan “If you wanna go fast, you go alone. If you wanna go far, you go together”. Berbisnis sendiri memang bisa lebih cepat, tapi bisa jadi lebih kompleks karena dalam waktu panjang tidak ada mitra yang dapat melengkapi kekurangan. Dalam bermitra, Ria menyadari bahwa kuncinya adalah menurunkan ekspektasi, “Dari pengalaman, saya dan partner bisnis memulai semuanya dari nol dengan tidak menaruh ekspektasi tinggi pada partner. Tapi tentunya sebelum bermitra lebih baik kita melakukan background check terlebih dahulu pada calon partner. Tujuan berbisnis adalah menguntungkan kedua belah pihak sehingga keduanya butuh pemahaman yang sejalan tentang keuntungan yang ingin dicapai bersama. Termasuk visi misi.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kepercayaan dalam hubungan bermitra. Dari awal harus ada keterbukaan dan kejujuran antar keduanya. Jika tidak ada keterbukaan, tidak ada kepercayaan yang dapat membuat bisnis berjangka panjang. Di samping itu, kita juga perlu memisahkan hubungan personal dan profesional. Khususnya jika mitra bisnis masih ada hubungan dekat. Kita harus menanamkan pada satu sama lain bahwa bisnis adalah bisnis. Jangan dicampuradukkan dengan pertemanan atau persaudaraan. Sebaiknya di tengah berbisnis ada peninjauan ulang tentang kemitraan. Semua pihak harus dapat melaporkan tanggung jawab masing-masing dalam bisnis. Jika terjadi argumentasi, semua harus berdasar pada bisnis bukan urusan personal. 

Bisnis adalah bisnis. Jangan dicampuradukkan dengan pertemanan atau persaudaraan. Sebaiknya di tengah berbisnis ada peninjauan ulang tentang kemitraan. Semua pihak harus dapat melaporkan tanggung jawab masing-masing dalam bisnis.

Ari Respati, Founder dan CEO AR Hospitality

Geometry-(IGF)WWLD4-03.jpg

Ari Respati yang sudah mengalami berbisnis sendiri dan bermitra mengakui bahwa banyak pelaku bisnis yang enggan membicarakan risiko dan kerugian di awal. Padahal ini sangat penting untuk dibahas sebelum bisnis mulai beroperasi. Berdasarkan pengalamannya berbisnis sendiri dan bermitra, Ari Respati merasa berbisnis sendiri —terutama di masa pandemi, sangat berisiko. Bermitra menjadi solusi atas permasalahan tersebut jika mitigasi risiko sudah dibicarakan secara jelas dengan mitra dari awal berbisnis. 

Menurutnya, menentukan mitra bisnis dapat dilandaskan pada beberapa tujuan. Ada yang karena alasan modal, keahlian, atau situasi atau lokasi (jika ingin ekspansi bisnis di kota tertentu). Jika tujuannya adalah masalah modal, pilihlah mitra yang memiliki uang lebih banyak. Jika tujuan berbisnis adalah untuk pengembangan, Ari menyarankan untuk menentukan mitra yang memiliki jaringan lebih luas dan yang berpengalaman. Mencari mitra yang lebih dari kita dapat menjadi salah satu cara menghindari risiko yang ada di ke depannya. Kalau tidak, risiko yang akan dihadapi dapat lebih besar. 

Setelah menentukan tujuan bermitra, langkah kedua yang dapat dipertimbangkan adalah menyusun strategi mitigasi risiko. “Konflik dalam bisnis bisa datang karena kesalahan mengelola risiko. Komunikasi di awal soal pembagian modal, aset, keuntungan, hingga tanggung jawab, dan hak, dapat menjadi cara efektif mengelola risiko yang mungkin terjadi di perusahaan. Semua pihak harus sepakat untuk dapat menaati perjanjian yang sudah dibicarakan di awal. Saat bisnis sudah beroperasi, sebaiknya tidak ada lagi pihak yang mendahulukan ego masing-masing dan perhitungan dengan apa yang sudah dikeluarkan. Semua harus sudah merujuk pada kesepakatan di awal,” jelasnya. 

Sayangnya, budaya orang Indonesia mendorong para pebisnis untuk menghindari pembicaraan tentang kerugian. Padahal, membicarakan apa yang tidak enak dibicarakan di awal bisa membantu melancarkan bisnis ke depannya. Hal ini juga berlaku untuk mitra yang masih berhubungan saudara, keluarga inti, atau pertemanan. Dengan diskusi tersebut, seluruh pihak juga dapat mempertemukan tujuan masing-masing dalam berbisnis. Yang terpenting adalah bukan hanya menyamakan visi misi, tapi juga menyatukan pola pikir agar dapat sejalan. Terlebih lagi pola pikir yang menyangkut dengan proses. Ari menyarankan untuk mencari mitra yang menghargai dan memahami proses serta mau menghadapi kesulitan bersama-sama.

Komunikasi di awal soal pembagian modal, aset, keuntungan, hingga tanggung jawab, dan hak, dapat menjadi cara efektif mengelola risiko yang mungkin terjadi di perusahaan.

Melalui segmen What Would Leaders Do, Geometry mengeksplorasi pemikiran strategis para pemimpin industri terkait suatu isu di dunia bisnis kreatif. Temukan ide serta inspirasi di balik pemikiran para industry expert lainnya di sini.


Previous
Previous

Generasi Terjebak Nostalgia

Next
Next

Membangun Karir Musisi ala Film Variações