Pameran Seni Tapi Dikurasi Musisi, Sutradara, Sampai Penulis. Kok Bisa?

Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) akan kembali digelar tahun ini!

Menghadirkan beragam pameran, workshop dan diskusi dari 17 September hingga 4 Oktober nanti, festival yang berfokus pada ilustrasi dan seni visual ini telah mengambil langkah pertamanya untuk memastikan bahwa perhelatan tahun ini menjadi ruang untuk kreativitas multidisiplin.

Festival seni masa kini kita tidak lagi jadi wadah eksklusif untuk seniman visual dan desainer saja. Melanjutkan semangat kreativitas lintas industri, JICAF baru mengumumkan Board of Curators mereka, yang diperkuat praktisi-praktisi antar sektor: dari dunia film, musik hingga hiburan untuk menyeleksi karya-karya yang akan ditampilkan.

Karya-karya pilihan tim kuratorial beragam ini diharapkan dapat menangkap semangat dunia kreatif Indonesia masa kini, sekaligus menjadikan JICAF ajang pencarian bakat-bakat yang akan membentuk lanskap budaya visual kita kedepannya!

Dalam proses seleksi, JICAF menghadirkan dua kategori utama, yakni SPARKS dan PROFESSIONAL, membuka ruang yang setara bagi talenta baru maupun profesional berpengalaman untuk memperoleh apresiasi, tidak hanya berdasarkan kualitas tapi juga karakter karya juga.

Mencari orisinalitas, insting dan potensi kreatif, kategori SPARKS ditujukan bagi talenta baru, termasuk kreator pemula dan otodidak juga. Turut bergabung dalam jajaran kurator kategori ini antara lain:

  • Musisi dan aktor Sherina Munaf membawa perspektif dari perjalan panjangnya di industri kreatif dalam melihat suara artistik generasi baru kreator.

  • Adjis Doaibu membawa sudut pandang segar dari ranah hiburan dan budaya populer.

Kategori PROFESSIONAL diperuntukkan bagi para seniman berpengalaman profesional minimal tiga tahun. Penguasaan teknis, kualitas eksekusi serta kematangan pendekatan visual pun dititikberatkan dalam penilaian. Melengkapi jajaran kurator kategori ini antara lain:

  • Hermawan Tanzil, selaku pendiri LeBoYe Graphic Design Studio

  • Sutradara film dan komersial, Dimas Djayadiningrat.

Kekuatan proses kurasi JICAF 2026 bisa ditemukan di ragam latar belakang figur-figur Board of Curators, yang diharapkan dapat mencerminkan perkembangan industri kreatif saat ini. Jajaran kurator antara lain diisi oleh Marchella FP, Hadi Ismanto, Ykha Amelz, Andrey Noelfry, Irvine Priscilla hingga Nicola Schwartz. 

Sunny Gho, selaku Fair Director, menekankan bahwa Board of Curators tahun ini dipilih sedemikian rupa hingga tidak hanya aspek visual saja yang menjadi fokus utama. Karya-karya terpilih juga harus searah dengan dinamika budaya populer yang tengah berkembang di Indonesia.

“Kami ingin memastikan karya-karya yang hadir di JICAF 2026 dipilih bukan hanya berdasarkan kualitas visual, tetapi juga karena memiliki suara, keberanian, dan relevansi budaya.” Ujarnya.

Setiap tahunnya, Jakarta Illustration & Creative Arts Festival membantu memperluas akses publik terhadap karya kreatif anak bangsa. Lebih dari sekedar hiburan bagi para penikmat saja, proses kuratorial festival ini menekankan perannya dalam membangun ekosistem seni berkelanjutan di Indonesia. 

JICAF tidak hanya menjadi ajang penemuan kreator lokal terbaru saja, tapi menjadi wadah untuk mengangkat para profesional berpengalaman kita ke kancah global.

Next
Next

Musik Bertemu Seni & Budaya: Eko Nugroho Angkat Memori Sungai Code di Prambanan Jazz