ICAD XI Tak Hanya Sekedar Sebuah Pameran

Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) kembali dibuka setelah tahun sebelumnya tidak dilaksanakan karena pandemi COVID-19 melanda. Pada pelaksanaan ke-11 ini, ICAD XI menghadirkan sesuatu yang lebih besar di mana ICAD XI menjadi pameran yang berbeda dibandingkan pameran pada umumnya. Mengangkat tema “Publik”, ICAD XI bekerja sama dengan #KEMANG12730 dan berhasil mengajak berbagai venue dan brand yang telah dikurasi sebelumnya, guna memperluas kawasan sebuah pameran agar aktivitas publik dapat berpartisipasi di dalamnya, baik secara fisik maupun virtual. 

Terdapat 50 venue dan brand di daerah Kemang yang sangat antusias untuk bekerja sama dengan ICAD XI, mulai dari toko furnitur, studio design, gallery, sampai dengan kafe yang tentunya memiliki program dan acara sendiri selama ICAD XI berlangsung. Walaupun saat ini ICAD XI dilaksanakan di berbagai penjuru Kemang, GrandKemang Hotel tetap menjadi venue utama dalam pelaksanaan pameran tersebut. 

Saat ini ICAD XI sudah memasuki minggu ke-3 pelaksanaan terhitung dari 21 Oktober 2021. Meskipun tahun ini menjadi tahun pertama ICAD XI diadakan di tengah masa pandemi, hal itu tidak mengurangi antusiasme masyarakat terutama warga Jakarta dan sekitarnya untuk datang ke pameran yang berada di daerah Kemang itu. 

ICAD XI diciptakan sebagai sebuah pameran yang tidak hanya dibuka untuk para kolektor pencinta seni saja, melainkan seluruh masyarakat awam bisa datang ke ICAD XI supaya dapat mempelajari segala hal tentang seni. Venue yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan pameran ICAD XI dapat dikatakan tidak berjarak yaitu dengan menjadikan area publik hotel sebagai tempat penyelenggaraan ICAD XI itu sendiri. Adanya kedekatan nyata dengan publik membuat awareness masyarakat terhadap ICAD XI makin meningkat dari tahun ke tahun.

Tak hanya masyarakat awam saja yang sangat antusias dengan kehadiran ICAD XI, para generasi muda juga memiliki antusiasme luar biasa dari tahun-tahun sebelumnya, terlebih ketika Kemang menajadi daerah yang sangat identik dengan anak muda. Pada awal mula pengumuman pelaksanaan ICAD XI melalui sosial media, para anak muda menyambut dengan hangat kehadirannya.

“Akhirnya bisa nonton pameran!” ujar mereka di salah satu kolom komentar.

ICAD XI dapat dikatakan bukan hanya sekedar sebuah pameran saja, namun juga sebagai sarana edukasi terkait seni dan juga menjadi tempat pelepas penat para generasi muda terutama di masa pandemi yang mulai melanda ini.

Tingginya antusiasme dari masyarakat yang datang, seluruh pengurus ICAD XI tentu tetap memperhatikan protokol kesehatan cukup ketat. Bagi para masyarakat yang ingin mendatangi ICAD XI sebelumnya harus melakukan registrasi terlebih dahulu di website arturaicad.com dan juga akan ada pengecekan akun PeduliLindungi sebelum memasuki venue GrandKemang Hotel. Seluruh panitia juga akan membatasi masyarakat yang masuk apabila terlihat cukup ramai dan dirasa melebihi kapasitas maksimum. Hal tersebut juga berlaku mulai dari grand opening ICAD XI, di mana pada tahun sebelumnya bisa mengundang tamu sampai sebanyak 1200 orang, sementara di tahun ini tentu dibatasi menjadi 200 tamu saja guna mengurangi risiko COVID-19 kembali muncul.

Terdapat banyak perbedaan signifikan selama membangun pameran ICAD XI dari sebelum dan selama masa pandemi berlangsung. Diana Nazir, selaku Steering Committee menjelaskan bahwa seluruh proses pengkurasian seniman dan desainer yang awalnya dilaksanakan secara tatap muka, di masa pandemi saat ini hanya bisa mengandalkan aplikasi online zoom meeting

Selama melakukan proses kurasi, tim kurasi ICAD XI akan mencari seniman-seniman yang sesuai dengan tema ICAD XI, sebelum karya para seniman tersebut di pamerkan, mereka harus menyajikan karyanya terlebih dahulu kepada tim kurasi. Selain itu, pada salah satu kategori seni open submission, Diana Nazir mengaku bahwa ada banyak karya-karya dari seniman muda masuk ke proses kurasi, sayangnya hanya 5 karya terbaik saja yang berhasil dipamerkan di ICAD XI.

Meskipun seluruh alur pengkurasian ICAD XI dilakukan secara online, namun dalam pelaksanaannya pamerannya ICAD XI tetap dilaksanakan secara hybrid, di mana para pengunjung dapat mendatangi secara langsung atau juga bisa mengikuti berbagai program ICAD XI yang dilaksanakan secara online. Dengan pelaksanaan pameran secara hybrid tersebut, ICAD XI menjadi pameran pertama yang diadakan secara offline di masa pandemi.

Seluruh hal baru yang ada di dunia kreatif dan desain terkumpul menjadi satu kesatuan dalam pameran ICAD XI tahun ini, mulai dari film hingga sastra yang tersebar di seluruh penjuru Kemang. Maka dari itu, dengan adanya pelaksaan ICAD XI yang berbeda di tahun ini, diharapkan Kemang menjadi hidup kembali seperti sedia kala. Selain itu, juga kehadiran ICAD XI dapat menjadi sebuah penanda bahwa perekonomian Indonesia sudah beputar kembali. 


Previous
Previous

Upaya Jakarta Film Week Meregenerasi Sineas di Jakarta

Next
Next

10 Tahun IdeaFest Berkontribusi di Industri Kreatif Indonesia