ICAD 15: Kita Satu “Earth Society” Disatukan Oleh Bahasa Universal Desain dan Seni

Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) kembali digelar tahun ini. Bertema Earth Society, selama pameran, pengunjung diajak untuk merefleksikan perubahan bumi dan kondisi masyarakat lokal dan global dengan semakin menipisnya ruang hidup.  Lebih dari sekedar menyoroti, ICAD membuka ruang dialog terbuka dan inklusif dalam mencari solusi.

Dari 10 Oktober hingga 9 November, ICAD 15 menghadirkan lebih dari 50 pelaku kreatif ragam disiplin dan karya mereka di grandkemang Hotel. Selain pameran, berbagai program publik juga diadakan, dari talkshow, workshop, performance art hingga film screening.  

Mantan Presiden, Akademisi dan Aktivis Era Kini Disatukan Oleh Seni dan Desain 

Isu seperti krisis iklim tentunya harus diatasi bersama-sama. ICAD 15 pun menjadi contoh bagaimana dengan bahasa universal seni dan desain, figur-figur penting dari berbagai lapisan masyarakat bisa disatukan.

Lewat desain dan seni, di ICAD 15 hadir figur-figur lokal dan internasional pembuat perubahan dulu dan kini!

  • Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sorotan, membawa pandangan personal dan reflektif-nya terhadap tema Earth Society.

  • Tokoh pelopor desain produk Indonesia, Profesor Emeritus Imam Buchori Zainuddin, membuat Special Appearance, tidak hanya menghadirkan karyanya, tapi juga pemikiran dan kisah dibaliknya.

  • Salah satu seniman Featured adalah Wishulada Panthanuvong, aktivis asal Thailand yang menghadirkan karya seni yang dibuat dari material tak terpakai.

Edwin Nazir, Festival Director ICAD, menyebut bahwa Earth Society lebih dari sekedar ruang pertemuan, tapi dapur perubahan:

“Di ICAD 15, kami ingin menegaskan kembali semangat kebersamaan dan kolaborasi yang menjadi inti dari festival ini, bukan hanya dalam merayakan kreativitas, tapi juga dalam berdialog tentang masa depan kita bersama” Ujar Edwin.

Membuka Ruang Diskusi Lintas Generasi, Lewat Open Call Soroti Suara Marginal

Prinsip yang dibawa desain dan seni dalam pencarian solusi kondisi bumi kini adalah inklusi. Selama satu bulan, Earth Society merayakan bahasa universal ini dengan memastikan suara dari berbagai sisi - dari komunitas marjinal hingga lintas generasi - bisa terdengar.

Open Call menjadi pendorong spirit kolektif ICAD 15 - bahwa kita satu Earth Society. Program ini memberikan kesempatan terbuka bagi berbagai seniman untuk menyoroti isu krisis iklim, serta dampaknya bagi mereka, dari sisi sosial, politik hingga perkotaan:

  • Studio kreatif bagi seniman autistik Jakarta, Kreaby, menghadirkan karya-karya seputar pentingnya ruang hijau di kota.

  • Gevi Noviyanti dan Arka Kinari membagikan temuan mereka tentang eksploitasi kelautan Indonesia.

Salah satu kritik terhadap diskusi-diskusi seputar perubahan bumi adalah kurangnya ruang untuk suara-suara dari generasi berikutnya yang akan mewarisi masalah-masalah ini. Dengan tema tahun ini, penyelenggaraan ICAD Student Tour menjadi semakin penting lagi. 

ICAD 15’ menggandeng lebih dari 20 sekolah mulai dari SD hingga universitas untuk berkunjung dan berbincang dengan kurator dan beberapa seniman. Program ini memastikan bahwa anak-anak muda ikut dalam dialog Earth Society; beropini tentang isu-isu yang disoroti dan terinspirasi, bahwa mereka juga bisa berkontribusi lewat desain dan seni.

Panggung Sebagai Ruang Komunal Menjadi Simbol Kolektivitas ICAD 15

Di lobi hotel grandkemang hadir sebuah panggung yang menjadi ruang komunal di ICAD 15, dimana program-program publik hasil kolaborasi dengan seniman, pelaku kreatif, asosiasi serta pusat kebudayaan, lokal dan internasional diadakan.

Panggung sekaligus karya arsitektur ini menjadi semacam centrepiece simbolis. Bahwa suara-suara berbeda tidak hanya dihadirkan, tapi disoroti. Didesain khusus oleh arsitek dan skenografer Trianzani Sulshi, panggung ini menekankan konflik dan kontras, pengingat bahwa kebersamaan dan kolektivitas di bangun darinya. 

Walaupun disatukan oleh bahasa universal, di ICAD 15 dan dengan tema seperti Earth Society, hadir juga negosiasi dan perbedaan opini. Tetapi indahnya desain dan seni adalah bagaimana suatu karya bisa mengakomodasi ide-ide dan berbagai perspektif berbeda.

Di ICAD 15: Earth Society menjadi bukti bahwa peran desain dan seni tidak boleh disepelekan; bukan hanya sekedar untuk membuat pernyataan, tapi penting dalam proses pembuatan kebijakan terkait isu-isu seperti perubahan lingkungan.  

Previous
Previous

Geometry Selects: Blockbuster Indonesia Tahun 2026

Next
Next

Catatan Dari Jakarta Coffee Week 2025: Saat Festival Kopi Menjawab Tantangan Industri, Bukan Cuma Merayakan