Perahu Kertas: Dari Novel ke Film hingga Teater Musikal!
Bertemakan pengenalan diri, menghadapi realita dan menerima pilihan hidup, cerita novel Perahu Kertas yang timeless sudah begitu melekat dengan hati publik kita.
Kisah ikonik Kugy dan Keenan yang pertama kali ditulis Dee Lestari tiga dekade lalu kini berlayar lagi dengan hembusan angin segar: menggabungkan dunia musik, sastra dan teater, sekaligus menjadi karya Dee pertama yang diadaptasi menjadi musikal.
Musikal Perahu Kertas sudah memasuki minggu kedua dan terakhir pementasannya di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Persembahan dari Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network, berkolaborasi dengan Trinity Youth Symphony (TRUST) ini pertama ditampilkan pada 30 Januari lalu, dan akan berlanjut hingga show ke-21 pada 15 Februari nanti.
Diproduseri Billy Gamaliel, Eunike Elisaveta dan Chriskevin Adefrid, Musikal Perahu Kertas kembali menghadirkan cerita tentang cinta, mimpi dan keberanian menjadi diri sendiri dari novel legendaris tersebut, tapi dengan pendekatan yang fresh.
Bertemakan Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi, Musikal Perahu Kertas hadir di waktu yang tepat, saat minat dan apresiasi terhadap pertunjukan musikal di Indonesia sedang bertumbuh pesat.
Kisah Yang Menginspirasi Satu Generasi
Mau itu dibaca ataupun ditonton di layar lebar dan kini sebagai teater musikal, kisah Perahu Kertas sudah melekat dengan publik kita.
Siapa yang tidak relate dengan cerita dua jiwa muda ini: Kugy, perempuan pengkhayal penuh mimpi yang memilih untuk menciptakan dongeng setelah sadar bahwa realita tak seindah itu, serta Keenan, pelukis muda jenius yang mencari jalan untuk bebas mengekspresikan diri meskipun hidup di bayang ekspektasi keluarga, di dunia yang menuntutnya menjadi orang lain.
Kisah pertemuan Kugy dan Keenan di antara milyaran manusia, serta kepercayaan dalam hati terdalam mereka bahwa suatu hari cerita dan karya mereka ditakdirkan untuk saling menemukan kembali, sudah menginspirasi satu generasi.
Tentu, ini tidak terkecuali para pemain Musikalnya sendiri. Alya Syahrani, yang memerankan Kugy, serta Dewara Zaqqi, pemeran Keenan, menyampaikan bahwa cerita Perahu Kertas memainkan peran sangat personal dalam perjalanan artistik mereka.
“Perahu Kertas memiliki kedekatan emosional tersendiri buatku, karena berbicara tentang mimpi dan pencarian jati diri. Melalui proses ini, aku kembali diingatkan pada alasan awal aku jatuh cinta pada seni panggung” Ujar Alya, yang pertama terjun ke dunia musikal pada tahun 2012.
Terdorong untuk mengikuti audisi karena kecintaannya pada film dan novelnya, Dewara pun terus terinspirasi oleh kisah Perahu Kertas.
“Cerita ini terasa begitu dekat dengan keseharianku dan aku bisa melihat banyak pengalaman hidupku tercermin dalam karakter Keenan. Aku berharap Musikal Perahu Kertas, sebagai panggung musikal kelima dalam perjalanan karirku, dapat membawaku selangkah lebih dekat menuju mimpiku untuk menjadi seorang aktor.” ujarnya.
Produksi Yang Semakin Mendorong Inovasi
Bukan sekedar cerita yang menginspirasi, produksi Perahu Kertas hadir sebagai hembusan angin segar yang mendorong industri musikal tanah air, yang kini semakin cepat berlayarnya. Kehadiran Musikal Perahu Kertas tidak hanya penuh makna saja, tapi dengan semangat kreatif dan kolaboratifnya kian menunjukkan relevansi musikal sebagai karya seni lintas generasi.
Hadir berbagai elemen artistik yang inovatif yang menjadi kekuatan pertunjukan tersebut.
“Pertunjukan ini juga menggabungkan elemen kreatif dan visual, mulai dari set panggung yang dinamis, permainan tekstur dan warna melalui proyeksi visual, hingga karakter yang dihidupkan lewat puppetry, serta berbagai elemen kejutan lain yang memperkaya pengalaman menonton dan memperdalam makna cerita.” ujar Chriskevin Adefrid.
Konsep panggung berputar dengan permainan layer dan transisi visual yang dinamis ini melengkapi visi sutradara sekaligus koreografer Venytha Yoshiantini dan penulis naskah Widya Arifianti. Tetap dengan lagu utama Perahu Kertas yang dipopulerkan oleh Maudy Ayunda, dari sisi musikal pertunjukan ini diperkaya oleh musik orisinil dari duo komposer ternama Ifa Fachir dan Simhala Avadana.
Tidak sebatas menjadi panggung kolaborasi untuk nama-nama ternama di dunia seni masa kini, kedalaman makna dari cerita Perahu Kertas tersendiri didorong oleh kesempatan yang produksi ini berikan pada mereka yang bermimpi menjadi bintang-bintang industri masa depan.
Dari jajaran pemeran, hadir 13 talenta muda yang terpilih dari program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya, dan tiga pemeran lainnya dari program Trinity Inkubasi. Keterlibatan dari talenta-talenta ini memastikan bahwa Musikal Perahu Kertas tidak hanya menginspirasi, tapi menjadi ruang tumbuh dan eksplorasi buat generasi baru pelaku seni pertunjukan negeri ini.
Kembali Berlayar, Kembali Menghidupi Mimpi
Kini mendekati 20 tahun sejak pertama diterbitkan, rangkaian 21 pertunjukan musikal ini menjadi lembar baru untuk kisah Perahu Kertas. Cerita yang ditulis Dee Lestari akan tentunya menyentuh lebih banyak hati dan mengajak generasi baru penonton untuk menghidupkan lagi mimpi-mimpi mereka yang mungkin sudah terkubur lama.
Namun musikal ini tidak hanya sebatas menginspirasi, tapi menghidupi spirit cerita Perahu Kertas juga. Selain produksi kreatif yang semakin mendorong inovasi industri musikal negeri ini, Musikal Perahu Kertas menjadi panggung kolaborasi dimana karya-karya penggerak dunia seni kita bertemu, dan menjadi ruang bagi talenta-talenta muda untuk terus mengasa mimpi mereka.
Sejumlah jadwal pertunjukan Musikal Perahu Kertas masih tersedia. Informasi lengkap mengenai jadwal pementasan serta pembelian tiket dapat diakses melalui loket.com/musikalperahukertas