Kenapa Zaman Sekarang, Lagu 2000-an Nggak Kedengeran Setua Itu?
Tahun ini, sejumlah album ikonik musisi Indonesia yang rilis di 2006 resmi memasuki usia 20 tahun. Mulai dari V2.05 - The Adams, Soulmate - Kahitna, No. Satu - Ratu, Breakthru’ - Nidji, sampai Echoes of the Universe - Homogenic. Secara hitung-hitungan, posisinya setara dengan album tahun 1980-an saat kita mendengarkannya di awal 2000-an: dua dekade.
Logikanya, ini seharusnya terasa jauh. Di awal 2000-an, lagu 80-an terdengar jelas sebagai produk zaman lain. Sound-nya beda, cara bernyanyinya beda, dan estetikanya jelas “bukan masa kini”.
Tapi anehnya, itu tidak terasa di saat ini. Album-album Indonesia pertengahan 2000-an masih terdengar akrab, relevan, bahkan sering diputar ulang tanpa embel-embel nostalgia. Tidak ada jarak emosional yang signifikan atau rasa “jadul” yang kuat. Padahal jarak waktunya identik.
Kenapa dua dekade sekarang terasa lebih pendek dibanding dua dekade dulu? Dan apa yang sebenarnya berubah dalam teknologi, budaya pop, dan cara kita mengalami musik sehingga masa lalu terasa semakin dekat?
Salah satu temuan penting dalam riset musik digital adalah: perubahan sonik musik pop melambat sejak era 2000-an akhir.
Studi dari Spotify dan Echo Nest (sekarang bagian dari Spotify) menunjukkan bahwa:
Struktur lagu pop sejak 2010 relatif stabil
Tempo, progresi kord, dan durasi lagu tidak berubah drastis dibanding lonjakan besar di era 1960–1990
Bandingkan:
1980 vs 2000: perbedaan instrumen, teknologi rekaman, dan gaya produksi sangat terasa
2000 vs 2020: perbedaannya ada, tapi subtle
Auto-tune, digital mixing, dan DAW (Digital Audio Workstation) membuat standar produksi jadi lebih konsisten lintas dekade. Akibatnya, telinga kita sulit menangkap “jarak zaman” hanya dari sound saja.
Di era radio dan televisi, musik selalu datang dengan konteks kronologis. Kita tahu lagu ini “lagu lama” karena ia diputar di jam tertentu, di program tertentu, dan dengan narasi tertentu. Seperti misalnya, lagu-lagu baru pasti ada dalam program tangga lagu terkini, sementara lagu lama dimainkan dalam program musik nostalgia. Di zaman sekarang dengan budaya streaming, semuanya langsung berubah.
Riset dari MIDiA Research menunjukkan bahwa:
Lebih dari 60% Gen Z menemukan lagu lama bukan dari arsip, tapi dari playlist terkurasi
Lagu-lagu lama dikonsumsi sebagai “konten baru” karena dilepas dari konteks sejarahnya
Dan ketika konteks waktu dihilangkan, musik akhirnya kehilangan umur. Di Indonesia, ini sangat terasa nyata. Lagu-lagu 2000-an tidak dikonsumsi sebagai nostalgia, tapi sebagai bagian dari keseharian di dunia digital hari ini.
Fenomena ini diperkuat oleh cara budaya pop bekerja. Alih-alih terus bergerak maju dengan meninggalkan masa lalu, budaya hari ini justru terus mendaur ulang referensi.
Estetika Y2K, pop-punk, R&B 2000-an, hingga visual era MTV bukan lagi throwback, tapi bahasa visual yang aktif dipakai ulang. Tahun 2000-an tidak ditempatkan sebagai masa lalu, tapi sebagai bagian dari sekarang. Hal ini membuat jarak temporal juga terasa semakin pendek.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, kita hidup di dunia yang menyimpan semua era sekaligus. YouTube, Spotify, TikTok, dan media sosial membuat arsip budaya selalu aktif dan bisa diakses kapan saja.
Sosiolog budaya Andreas Huyssen menyebut kondisi ini sebagai present past: masa lalu tidak pergi, tapi hidup berdampingan dengan masa kini. Maka wajar jika dua puluh tahun hari ini terasa lebih dekat dibanding dua puluh tahun dulu.
Jadi, apa yang sebenarnya berubah? Bukan waktunya, tapi cara kita merasakan waktu. Teknologi memperlambat evolusi estetika, algoritma menghapus konteks sejarah, dan budaya pop memilih mendaur ulang daripada melompat jauh. Akibatnya, masa lalu terasa lebih dekat, lebih akrab, dan kurang terasa asing.
Dan mungkin ini juga menjelaskan banyak hal lain hari ini: kenapa lagu lama terasa relevan, kenapa brand lama bisa hidup lagi, dan kenapa generasi baru tumbuh tanpa jarak emosional yang besar terhadap masa lalu.
Bukan karena kita terlalu bernostalgia, tapi karena masa lalu memang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan.