Anak Jaman Sekarang Lebih Pilih Sushi daripada Nugget
Kalau kita tarik mundur ke awal 2000-an, peta makanan anak-anak Indonesia relatif seragam. Fried chicken, kentang goreng, nugget, sosis, dan pizza menjadi comfort food lintas kelas. Pilihannya praktis, rasanya familiar, dan secara kultural sudah “disetujui” sebagai makanan anak.
Dua dekade kemudian, lanskap itu berubah. Anak-anak di kota besar hari ini tumbuh dengan referensi makanan yang jauh lebih luas. Mereka tidak hanya mengenal fast food, tapi juga makanan lintas budaya yang dulu diasosiasikan dengan selera dewasa. Salah satu yang paling mencolok: sushi.
Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Ia lahir dari kombinasi gaya hidup urban, paparan visual sejak dini, dan cara baru keluarga memaknai makanan sebagai pengalaman, bukan sekadar pengisi perut.
Generasi Alpha hari ini tumbuh di tengah mall, aplikasi delivery, dan konten visual tanpa henti. Mereka melihat makanan bukan hanya dari rasa, tapi dari bentuk, warna, dan cara penyajiannya. Sushi, dengan potongan kecil, visual rapi, dan ritual memilih sendiri, masuk dengan mulus ke dunia ini.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Alpha tidak membawa beban kultural terhadap ikan mentah. Mereka tidak diajarkan bahwa sushi itu “aneh” atau “makanan orang dewasa”. Sejak awal, sushi hadir sebagai salah satu opsi yang setara dengan makanan lain.
Di titik ini, preferensi makan anak tidak lagi dibentuk oleh tradisi, tapi oleh paparan.
Dulu, sushi di Indonesia berdiri sebagai simbol gaya hidup. Ia mahal, spesifik, dan cenderung diposisikan sebagai reward atau penanda status. Namun seiring waktu, infrastrukturnya berubah.
Restoran sushi hadir di hampir semua pusat perbelanjaan. Format conveyor belt, menu bento, hingga kehadiran sushi di rak ritel dan aplikasi pengantaran membuatnya semakin terjangkau secara mental, meski tidak selalu murah secara harga.
Sushi pun mengalami transformasi fungsi. Ia tidak lagi hanya soal keotentikan Jepang atau teknik khusus, tapi menjadi makanan yang fleksibel, bisa dinikmati keluarga, dan diterima lintas usia.
Bagi banyak orangtua kelas menengah Indonesia, keputusan memberi sushi ke anak bukan soal tren, tapi strategi. Di tengah kecemasan soal gizi, gula, dan konflik makan, sushi hadir sebagai kompromi yang terasa rasional.
Ia dipersepsikan lebih “aman” dibanding junk food, porsinya kecil, dan relatif tidak memicu penolakan. Dalam praktiknya, sushi menjadi alat negosiasi: anak mau makan, orang tua merasa tenang.
Biaya yang lebih tinggi sering kali ditoleransi karena dianggap sepadan dengan ketenangan dan minim drama.
Ketika sushi menjadi makanan anak, yang berubah bukan hanya menu, tapi cara kita membaca kelas, selera, dan exposure. Makanan menjadi bagian dari pembentukan identitas sejak dini.
Anak yang terbiasa makan sushi dianggap punya taste, terbuka, dan familiar dengan dunia luar. Ini bukan selalu niat sadar orang tua, tapi efek sosial yang bekerja perlahan.
Sushi, dalam konteks ini, tidak lagi bicara tentang Jepang. Ia bicara tentang normal baru keluarga urban Indonesia.
Pergeseran dari nugget ke nigiri menunjukkan bahwa pola makan anak adalah indikator perubahan yang lebih besar. Ia mencerminkan bagaimana kota, teknologi, dan parenting membentuk generasi baru dengan definisi “normal” yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Dan ketika makanan yang dulu dianggap dewasa kini menjadi comfort food anak-anak, itu tanda bahwa batas-batas selera, kelas, dan usia sedang ditulis ulang.