Bukan Sekadar Pelengkap Adegan, Musik Jadi Medium Cerita di Suka Duka Tawa

Pertama ditayangkan sebagai film penutup Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025, Suka Duka Tawa kini sudah hadir di sinema seluruh Indonesia sejak 8 Januari lalu. Menariknya, film dengan soundtrack dari The Adams, Bernadya hingga Andre Hehanusa ini bukan hanya menjadikan lagu sebagai musik latar, melainkan sebuah medium penceritaan penting bagi sutradara Aco Tenriyagelli dalam film debutnya.

Film drama komedi keluarga ini mengikuti kisah Tawa (Rachel Amanda), seorang komika yang menjadikan kisah personal ditinggal ayahnya, Keset (Teuku Rifnu Wikana), sebagai materi stand up. Namun ia dihadapkan turbulensi emosional saat sang ayah muncul lagi secara tiba-tiba. Apakah ia mampu memaafkan dan menerima kembali sosok yang yang melukainya?

Dengan Pengalaman Sebagai Sutradara Video Musik, Lagu Bukan Sekadar Pengisi Suara Untuk Aco

Bagi sang sutradara yang tumbuh dari dunia video musik, soundtrack bukan hanya pengisi suara atau pelengkap adegan saja. Lagu-lagu yang dipilih dan disusunnya hidup bersama cerita dan para penonton, membangun ruang emosional yang personal layaknya sebuah playlist harian.

“Musik selalu punya cara tersendiri untuk membuka pintu emosi seseorang,” ujar Aco. “Buat saya, musik di film ini seperti teman duduk di sebelah kita. Kadang ikut ketawa, kadang ikut diam,” lanjutnya.

Lewat Soundtrack Lintas Generasi, Penonton Jadi Bisa Lebih Mendalami Kisah Film Ini

Untuk mencerminkan perjalanan emosi karakter utamanya, Aco mengkurasi sendiri sebuah susunan soundtrack lintas generasi. “Bunga Maaf punya kehangatan dan kesederhanaan yang cocok dengan perjalan Tawa dan dinamika keluarganya” Ujar Aco tentang lagu hits The Lantis yang sebelumnya sudah hadir sebagai lagu tema official trailer film tersebut.

Setiap lagu yang dipilih pun hadir sebagai bagian dari cerita. Contoh saja “Karena Ku Tahu Engkau Begitu” karya Andre Hehanusa yang memperdalam nuansa nostalgia dan hubungan antar karakter, serta “Masa Sepi” dari Bernadya yang penuh emosi menemani adegan intim dan personal. Kehadiran “Timur” tidak hanya menandai kembalinya The Adams ke layar lebar, tapi juga menambah lapisan ikonik dalam perjalanan musikal Suka Duka Tawa.

“Aku benar-benar nggak nyangka lagu aku ditempatkan di momen itu. Sedih, tapi juga hangat. Keseluruhan filmnya bikin aku nangis haru dan itu jarang terjadi ke aku,” ujar Bernadya, yang menontonnya bersama kawan-kawan musisi lainnya di gala premiere.

“Semoga lagu aku dan lagu-lagu lainya bisa bikin penonton larut ke dalam ceritanya,” lanjutnya.

Bersama Visual dan Warna, Musik Otentik Identik Gaya Penyutradaraanya Yang Segar

Melalui susunan soundtrack ini, musik menjadi perpanjangan dari cerita Suka Duka Tawa bukan sekadar pendukung saja - sebuah elemen penting yang menyatu dengan visual serta warna yang otentik dan khas gaya penyutradaraan yang segar yang Aco tawarkan dengan debutnya.

Sang sutradara pun berharap bahwa kumpulan lagu tentang luka, keluarga, memaafkan dan bertumbuh ini akan terus hidup bersama para penonton - bahkan setelah film usai. “Saya ingin lagu-lagunya terasa manusiawi nggak mengguri, tapi menemani penonton saat mereka masuk ke cerita Tawa dan mungkin juga ke cerita mereka sendiri” tutupnya.

Next
Next

AI Ini Produksi Puluhan Konten Seksual Tanpa Consent… Setiap Satu Menit!