Lika-Liku Investasi Bisnis Kreatif dan Sosial di Indonesia

Geometry-Investasi_Bisnis_Kreatif.jpg

Mendapatkan investasi adalah salah satu bagian penting dalam membangun sebuah bisnis kreatif dan sosial. Terutama bisnis-bisnis yang sedang dalam tahap pengembangan demi mencapai kestabilan dan dapat bertahan dalam waktu panjang. Sayangnya, tidak semua bisnis kreatif dan sosial mendapatkan akses untuk mendapatkan pendanaan yang mumpuni. Padahal menurut riset yang dilaksanakan oleh British Council, The United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) dan AVPN (Asian Venture Philanthropy Network), masuknya investasi asing ke Indonesia membuka peluang besar untuk meningkatkan perekonomian negeri. Ini berarti bisnis kreatif dan sosial di Indonesia juga berkesempatan besar untuk mendapatkan pendanaan. 

Dalam riset yang bertajuk Investing in Creative and Social Enterprise in Indonesia tersebut, terdapat data yang menunjukkan bahwa sektor pariwisata, fashion, kuliner, kerajinan tangan, dan teknologi digital adalah sektor yang paling berpotensi mendapatkan investasi. Akan tetapi 45% di antaranya masih memilih untuk menggunakan aset pribadi untuk memulai bisnis dan pengembangannya. Penyebabnya antara lain tidak adanya akses ke para investor atau sulitnya memenuhi persyaratan para investor seperti pemberian jaminan. Oleh sebab itu, para pebisnis kreatif dan sosial perlu meninjau lebih dalam tentang pemberian investasi pada sektor bisnis 

Kategori investor bisnis kreatif dan sosial 

Tersedia enam kategori investor untuk bisnis kreatif dan sosial di Indonesia yaitu investor dengan pendanaan finansial seperti bank, venture capitalist, atau berbagai perusahaan swasta. Kategori ini biasanya memiliki motivasi untuk mendapatkan keuntungan finansial ketika bisnis yang didanai sudah mendapatkan profit. Kemudian ada pula tipe investor yang memiliki motivasi finansial dan sosial. Biasanya tujuan pemberian investasi tidak hanya sekadar modal uang saja tapi juga memberikan dampak sosial misalnya pada bisnis yang memiliki tujuan untuk melestarikan lingkungan. 

Berbeda dengan pemberi hibah. Seringnya, investor dalam kategori ini memberikan investasi sepenuhnya untuk sosial. Mereka memiliki program CSR (corporate social responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan untuk memberikan sejumlah dana atau bantuan dalam bentuk tertentu pada komunitas atau bisnis-bisnis dalam skala mikro. Pemberian dana bisa juga dalam bentuk pinjaman lunak. Artinya bisnis kreatif dan sosial hanya perlu mengembalikan modal sejumlah yang diberikan tanpa suku bunga dan dalam periode waktu terjangkau. Contoh para pemberi hibah di Indonesia adalah Astra International dan Telkom Indonesia. Hal ini cukup mirip dengan kategori investor start-up support yang memberikan fasilitas cuma-cuma untuk para pebisnis kreatif dan sosial terpilih. Co-working space atau program inkubasi dan akselerasi berupa pelatihan sering diberikan oleh para start-up support untuk menunjang pengembangan bisnisnya. Rumah Sanur, Instellar, dan SIAP (Social Innovation Acceleration Program) termasuk dalam kategori ini. 

Ada pula kategori investor yang fokus pada jaringan. Mereka biasanya mempertemukan para pebisnis dengan pemberi dana. Selain itu, mereka juga memberikan program pembekalan pada para pebisnis sebelum mencari pemberi dana. Para investor dengan kategori ini termasuk ANDE (Aspen Network of Development Entrepreneurs), ANGIN, dan AVPN. Lalu yang terakhir adalah institusi pemerintah. Dulu mungkin kita mengenal Bekraf, salah satu institusi pemerintah yang berkutat dalam pembangunan ekonomi kreatif di INdonesia. Kini Bekraf telah menjadi Baperekraf dengan sejumlah program yang fokus pada program pelatihan dan pembangunan bisnis kreatif. Selain Baperekraf, terdapat beberapa institusi pemerintah lainnya yang dapat dijajal untuk memberikan dukungan. Contohnya seperti Bappenas, Kementrian Keuangan, OJK, dan Bank Indonesia. 

Motif para pemberi dukungan atau investasi

Supaya dapat mengidentifikasi investor yang tepat sasaran, para pebisnis kreatif dan sosial juga perlu meneliti lebih jauh motif tiap calon investor. Berdasarkan riset ini, terdeteksi tiga motif utama para investor:

Pertama adalah motif sosial. Investor dengan motif ini bertujuan untuk membuat perubahan nyata di masyarakat. Ekosistem yang baik dipercaya dapat menunjang laju perekonomian yang baik pula sehingga tidak ada ketimpangan dan justru menghasilkan siklus ekonomi yang sehat. Aavishkaar dan Amartha adalah dua contoh lembaga yang memberikan investasi dengan motif ini. Kedua adalah motif pelestarian lingkungan atau komunitas di area yang terdampak oleh kerusakan lingkungan atau bermukim di lingkungan yang kurang layak. Organisasi seperti RECOFTC dan The Ford Foundation banyak menyediakan program untuk bisnis sosial yang sehubungan dengan isu ketidaksetaraan, perubahan iklim, dan lain-lain. Ketiga adalah motif finansial jangka panjang. Tentu saja motif ini merupakan pertimbangan utama sebagian besar investor. Meskipun sebenarnya para investor menggunakan pertimbangan finansial untuk tetap menyeimbangkan kedua motif sebelumnya. 

Pada dasarnya setiap investor memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam penentuan pengembalian investasi sosial, lingkungan atau finansial. Namun, investor yang cenderung memiliki motif sosial biasanya akan lebih fokus pada pengukuran dampak sosial yang dapat diberikan oleh para pebisnis kreatif dan sosial ketimbang faktor finansial. Sehingga kriteria yang harus dipenuhi tidak memiliki standar tertentu dan terbilang cukup subjektif. Ini dapat dipertimbangkan sebagai peluang besar bagi pebisnis kreatif yang juga dalam lingkup sektor sosial atau sebaliknya.

Previous
Previous

Peluang Bisnis Galeri Seni

Next
Next

Memaksimalkan Bisnis Kreatif dan Sosial