Ketika Dua Seniman Lintas Generasi Bersatu dalam Pameran Staging Desire

Apa yang terjadi ketika dua seniman lintas generasi dengan pendekatan seni yang bertolak belakang dipertemukan dalam satu ruang pamer? 

Digagas oleh Baseline Studio dan didukung oleh Komunitas Salihara sebagai partner utama, pameran Staging Desire mempertemukan dua seniman lintas generasi yang memiliki pendekatan seni yang berbeda, yakni antara Nindityo Adipurnomo dan Imam Sucahyo. 

Lebih lanjut, Nindityo merupakan seniman konseptual dengan proses kerja yang analitis dan terstruktur. Dalam pameran ini ia berjumpa dengan Imam yang merupakan seniman otodidak yang mengandalkan spontanitas, intuisi, dan kejujuran personal dalam berkarya. 

Hasil perjumpaan keduanya tentunya bukan memunculkan pertentangan, melainkan melahirkan karya seni dengan dialog visual proses aktualisasi diri yang intens. Selain itu, narasi tentang bagaimana cara seniman memandang dunia untuk bercermin juga menjadi satu kesepakatan cerita yang kuat diangkat oleh keduanya.

Meski mempunyai pendekatan yang berbeda dalam proses berkaryanya, Nindityo dan Imam mempunyai kesepakatan yang sama akan proses pemaknaan karya seni yang dapat ditafsirkan sebebas mungkin oleh para pengunjung yang datang ke pameran duo mereka ini. Oleh karena itu, pameran seni ini tak hanya diperuntukkan untuk penikmat seni saja, namun orang awam tanpa pengetahuan seni pun juga dapat merasakannya.

“Tafsirkanlah sejauh dan sedalam mungkin, sehingga mereka (penonton) bisa terinspirasi mengungkap hal-hal dan nilai-nilai baru yang barangkali justru tidak ada pada karya-karya saya. Karena di sanalah fungsi kesenian itu,” ujar Nindityo.

Penafsiran Seni yang Bebas dari Dogma-Dogma Tertentu

Bertajuk “Membaca Ulang Wayang Karton Imam Sucahyo”, Nindityo Adipurnomo menampilkan proyek seni yang ia kerjakan sejak 2023 hingga 2025. Sesuai dengan judulnya, karya-karya ini merupakan hasil penafsirannya atas wayang-wayang buatan Imam Sucahyo.

Proses penafsiran tersebut berlangsung dalam dua tahap. Pertama, Nindityo melakukan analisis struktural terhadap sepuluh buah wayang karton yang dipinjamkan oleh Imam. Setelah itu, ia membaca ulang hasil analisis tersebut dan menghubungkannya dengan imajinasi dan fantasi pribadinya, yang muncul sebagai bentuk cerminan dari pengalaman batin dan pikiran yang terus membayanginya belakangan ini.

“Isu yang saya kemukakan adalah pencarian dan pembentukan subjek yang berkali-kali pernah saya merasa dapatkan, namun saya ragukan kembali dan saya bongkar untuk kemudian saya bangun lagi, sekalipun tetap sambil membayangkan bahwa subjek yang terakhir ini juga bukan subjek saya yang sesungguhnya, jadi suatu waktu bisa saya bongkar lagi,” ungkap Nindityo.

Lebih lanjut, Nindityo menjelaskan bahwa tafsir personal semacam ini membuatnya ingin mengajak pengunjung untuk meninjau kembali cara kita memandang simbol budaya dan mempertanyakan relevansinya dalam lanskap sosial saat ini. Oleh karena itu, rasa ketidakpastian kala kita memandang dunia ini dapat membuat kita menolak identitas tunggal dan tetap yang Nindityo jadikan juga sebagai prinsip pencarian seumur hidupnya.

Melalui pameran Staging Desire ini, Nindityo justru juga ingin mengundang penonton untuk merespon karyanya secara bebas. Ia berharap publik dapat menafsirkan karya-karyanya dengan cara berpikir dan imajinasi masing-masing, sehingga penonton tak perlu terjebak pada dogma-dogma tertentu yang sering kali tanpa sadar membentuk dengan formal cara pandang seseorang terhadap seni dan kehidupan.

Catatan Harian yang Jujur Apa Adanya

Masih dalam bingkai proses aktualisasi diri dan bagaimana seniman menjadikan dunia sebagai cermin, Imam Sucahyo memilih untuk menghadirkan catatan harian kecil tentang perjalanan dan pengalaman hidupnya.

“Inspirasi dari karya-karya saya itu tentang lingkungan terdekat. Tentang pengalaman hidup yang saya lewati, lewat perjumpaan saya dengan orang-orang di sekitar saya ketika saya melakukan perjalanan di desa-desa atau lingkungan sekitar,” ucap Imam.

Berbeda dari pendekatan naratif yang sarat makna simbolis, Imam justru tampil apa adanya. Ia merasa tidak perlu menyisipkan pesan tertentu dalam karyanya. Ia hanya ingin menceritakan catatan perjalanannya ke dalam sebuah karya seni. Jika orang lain memaknainya sebagai sesuatu yang berharga, maka dengan hati terbuka ia mempersilahkan mereka membawa pulang tafsir personal tersebut.

Bagi Imam, kesenian adalah cara untuk melukiskan apa yang dirasakannya. Imam hanya berharap selama karyanya dapat membuat orang lain senang maka itu sudah cukup baginya, terutama mereka yang menjadi inspirasi di balik karya-karyanya yang dipajang.

Meski demikian, perspektif Imam ini hadir bukan hanya sebagai unsur pendukung, tetapi  sebagai elemen penting dalam pameran Staging Desire. Di mana ekspresi mentah dari Imam ini menjadi penyeimbang yang diperlukan terhadap narasi institusional Staging Desire yang didasarkan pada pengalaman hidup, improvisasi, dan kekuatan cerita yang tak tersaring.

Oleh karena itu, meski materi dan bentuk pendekatan karya keduanya berbeda, namun karya mereka saling melengkapi tentang bentuk kepedulian mereka pada lingkungan, budaya, dan simbolik. 

Selain itu, meski terpaut usia yang jauh, metodologi kreatif yang digunakan kedua seniman ini nyatanya juga saling beririsan. Dimana Nindityo melihat inspirasi sebagai proses membongkar dan merakit ulang makna, sementara Imam mengolah inspirasinya dari kesan-kesan spontan terhadap kehidupan sehari-hari.

Bagi Friends of Geometry yang tertarik untuk mengunjungi pameran Staging Desire, pameran ini akan berlangsung di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, mulai dari 14 Juni hingga 27 Juli 2025 mendatang. Untuk informasi pendaftarannya dapat diakses langsung melalui akun instagram @baseline_studio_id atau @komunitas_salihara.


Previous
Previous

Festival Jazz, Tapi Kok Bukan Jazz? Indra Lesmana Angkat Suara

Next
Next

Pagelaran Sabang Merauke Tampilkan Pertunjukan Sekelas Broadway