Bagaimana Kalau Produkmu Diplagiat?

Plagiarisme atau peniruan terhadap desain produk bisa terjadi secara disengaja atau tidak. Faktanya, di era yang dibanjiri dengan informasi serta kemudahan akses untuk mendapatkan inspirasi, ide bisa saja datang dari mana saja. Tapi kalau ternyata produk yang kamu jual memang diplagiat secara sengaja demi mendapatkan keuntungan, kamu harus bagaimana?


Kania Annisa Anggaini, Founder Chic & Darling, Co-Founder Dapur Ruben

Menurut Kania Annisa Anggaini, sebuah desain produk bisa dikatakan mengalami plagiarisme jika bentuk, nama produk, nama campaign hingga color tone benar-benar serupa. Jika misalnya bentuk produk mirip tapi ada sisi inovatif yang membedakan, menurutnya itu tidak bisa dibilang plagiarisme. 

Geometry-(IGF)WWLD3-02.jpg

“Dulu saya pernah membuat bantal dengan gaya patchwork. Ternyata ada brand lain yang juga memakai gaya sama. Bahkan mereka mengakui terinspirasi dari Chic & Darling. Walaupun begitu, mereka tetap membubuhkan elemen unik yang membedakan produk mereka. Ini tidak bisa dibilang plagiarisme karena inspirasi bisa didapat dari mana saja. Sebagai creative maker, kita juga tidak bisa 100% yakin dan langsung klaim karya yang dibuat berdasarkan ide orisinal kita sendiri. Saya mungkin tidak bisa mewakili semua orang dalam hal ini, tapi menurut saya ada langkah-langkah bijak sebelum mengambil langkah ekstrem ketika melihat ada karya yang mirip dengan karya kita”, jelas Kania melanjutkan. 

Di awal bisnis, Kania pernah mengalami plagiarisme. Dari logo, tagline hingga copy produk dijiplak. Tapi, ia tidak pernah membawa ke publik dan memulai konfrontasi secara terbuka. Menariknya, brand yang melakukan plagiarisme justru menyampaikan permintaan maaf karena ternyata para pelanggan Chic & Darling menegur mereka. Bagi Kania, antar bisnis kreatif yang masih dalam skala kecil menengah tidaklah perlu untuk membawa ke jalur ekstrem. Apalagi jika harus public shaming. Apabila merasa produk diplagiat, bisa tegur secara personal dan dibicarakan baik-baik solusinya. Kecuali kalau memang pihak yang melakukan plagiat menyangkal padahal sudah banyak bukti yang diperlihatkan. Dalam kasus seperti ini, mungkin bisa coba bawa ke publik atau bahkan ke jalur hukum jika diperlukan. 

Bagi Kania, antar bisnis kreatif yang masih dalam skala kecil menengah tidaklah perlu untuk membawa ke jalur ekstrem. Apalagi jika harus public shaming. Apabila merasa produk diplagiat, bisa tegur secara personal dan dibicarakan baik-baik solusinya.

Muhammad Yukka Harlanda, CEO Brodo

Plagiarisme menurut Muhammad Yukka Harlanda adalah bentuk meniru atau mencuri baik desain fisik atau visual yang intensinya mendapat keuntungan tanpa upaya lebih. Bentuk peniruan dalam hal ini merupakan peniruan bentuk rupa dan warna desain untuk keuntungan sang penjiplak. Akan tetapi, batas antara plagiarisme dan inspirasi sangatlah tipis dan sebenarnya kalau memang bentuknya adalah inspirasi, menurutnya sangatlah disahkan. 

Geometry-(IGF)WWLD3-03.jpg

Bahkan peniruan desain dengan unsur inspirasi sudah sering terjadi di antara brand sepatu ternama secara global. Di ekosistem sneakers, misalnya, antar brand saling memberikan inspirasi dan saling meniru. Contohnya Nike yang di awal sempat memiliki desain yang menyerupai desain Asics dan Adidas. Lalu, desain sepatu Reebok meniru Nike. 

“Ketika suatu brand mulai berkembang dan mature, dalam arti punya kapasitas untuk membuat desain sendiri, mereka akan berinovasi dengan desainnya sendiri. Justru sebenarnya unsur inspirasi dapat meningkatkan perkembangan dunia desain produk. Jadi, semua bisa punya motivasi untuk saling menginspirasi dan berupaya untuk menjadikan brand lebih baik lagi. In the end, consumer will win”, ungkap Yukka.

Oleh sebab itu, dari segala kejadian plagiarisme yang pernah dialami Brodo, Yukka tidak pernah mengambil jalur hukum. Sebaliknya, ia mencoba untuk memberikan edukasi pada para pelanggan bahwa ada barang yang serupa dengan barang mereka dengan harga yang lebih murah. Yukka meneruskan, “Mungkin kita juga tidak bisa melarang orang untuk meniru. Apalagi di Indonesia hukum untuk desain produk dan plagiarisme belum terlalu kuat. Kita justru akan keluar banyak waktu, tenaga, dan bahkan uang, untuk mengurus jalur hukum. Dalam menanggapi isu plagiarisme, kami justru mengambil langkah untuk berbangga hati karena produk kami ternyata diakui bagus sampai ditiru orang lain.”

Dalam menanggapi isu plagiarisme, kami justru mengambil langkah untuk berbangga hati karena produk kami ternyata diakui bagus sampai ditiru orang lain.

Melalui segmen What Would Leaders Do, Geometry mengeksplorasi pemikiran strategis para pemimpin industri terkait suatu isu di dunia bisnis kreatif. Temukan ide serta inspirasi di balik pemikiran para industry expert lainnya di sini.

Previous
Previous

Semarak Hari Kemerdekaan dalam Dunia Virtual

Next
Next

Kerajinan Tangan Modern di Tangan Kreator Lokal