Gen-Z & Millenial Ternyata Lebih Suka Video Promosi yang Apa Adanya

Pernah lihat video promosi yang terkesan seadanya? Modal direkam dengan ponsel, tanpa filter, diiringi musik latar yang lagi trending–pokoknya video tersebut tidak dibuat dengan crew dan budget produksi yang besar. 

Nah, baru-baru ini Meta menemukan hubungan yang kuat antara video iklan yang mentah dan kasar dengan dampak kreatif yang lebih besar. Dengan nilai produksi yang lebih rendah, nyatanya dapat mendorong ingatan audiens terhadap iklan tersebut secara lebih signifikan dibandingkan dengan iklan berproduksi tinggi.

Pada 2019, Meta melakukan studi tentang iklan tanggapan langsung dan menemukan bahwa pada Instagram Story, terdapat 84% kemungkinan video yang direkam sendiri dengan ponsel lebih unggul dibanding rekaman studio dalam jumlah viewers. Sejalan dengan 63% yang lebih terdorong untuk membeli atau mengunduh aplikasi.

Sisi baik dari ketidaksempurnaan

Hal ini bisa terjadi lantaran Millenial dan Gen-Z yang mengalami ‘perfection fatigue’ atau kelelahan akan kesempurnaan. Survei dari YPulse menemukan bahwa 90% responden yang berusia 18-36 tahun  menyukai saat seseorang menunjukan kekurangan dan ketidaksempurnaan mereka, sedangkan 60% berpikiran bahwa strategi komunikasi dengan menunjukkan ketidaksempurnaan dari sisi brand maupun iklan yang dibuat dapat memberikan pengaruh baik bagi citra brand terkait. 

Materi iklan yang lebih kreatif dan relatable dengan keseharian bersama teman atau rekan kerja memiliki dampak yang lebih efektif bagi brand. Pendekatan dengan ‘lo-fi’ dilakukan secara natural dan tanpa rekayasa berlebihan, tetapi lebih autentik dan nyata—serta lebih manusia. Studi pada iklan Facebook dan Instagram Reels, mendapati  bahwa iklan sosial media dengan figur seseorang/tokoh di dalamnya mendapat 25% rasio klik-tayang lebih tinggi dibandingkan dengan iklan yang tidak terdapat sosok orang di dalamnya.

Gabungan formula dari produksi video yang lebih low-budget dengan hanya menggunakan ponsel, figur manusia dihadirkan, elemen original dari platform seperti stiker atau filter, kolaborasi dengan kreator lain, serta cerita yang sederhana dan relatable ternyata kini lebih mampu diterima publik. Bagi Gen-Z video dengan produksi yang apa adanya dianggap lebih mampu menyampaikan keaslian, realitas, dan sisi kemanusiaan dari sebuah brand.

Contoh brand yang berhasil menarik perhatian dengan video-video berproduksi rendah, seperti Scrub Daddy, Jovem Studio, Hecate, dan masih banyak lagi.

Previous
Previous

Jakarta Fashion Week 2023 Kembali Ramaikan Industri Mode Tanah Air

Next
Next

Strolling Down Memory Lane Bersama Exsport dan Yupi